Headline News
Home » » MENGGUGAT KEADILAN HIDUP

MENGGUGAT KEADILAN HIDUP

Posted by Puspa Anggita
Website eRTe.04 , Updated at: 09:14:00

Posted by Puspa Anggita on Monday, 29 February 2016

rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

RT.4 - Ada banyak petuah yang mengatakan "hidup ini adil". Dalam doa, ajaran agama, kata bijak, maupun wejangan orang tua, manusia harus menyukuri hidup. Tuhan Maha adil. Kehidupan juga maha adil. Dan barisan kata-kata lain membombardir dan mengunci jalan pikiranku sejak kecil. Namun, laksana remaja ABG, semakin dikerangkeng dengan aturan dan norma, justru semakin berusaha mencoba-coba keluar dari penjara tersebut.

Sulit kukunyah dan sulit kutelan tentang bahasa "keadilan hidup". Kalau kutilik sepanjang sejarah, rasanya juga tidak seperti cerita dongeng nina bobo. Berbagai kisah dan film selalu menyodorkan bahwa yang baik dan benar akan menang. Jagoan, kalah di awal, dan di akhirnya bahagia selamanya, happily ever after. Kini aku berani tegas, "Omong kosong semua itu!!!"

Keadilan? Apa itu keadilan? Versi yang berlaku di masyarakat juga tak mampu kujadikan kacamata memahami hidup manusia. Bagaimana tidak? Manusia, satu-satu, seorang diri lahir ke dunia, secara "tiba-tiba". Kemudian kelak, sendiri-sendiri juga harus menjalani kematian. Ibarat buku, akhir cerita sudah bisa kita ketahui: MATI. Laksana tipuan belaka, hidup bersusah-payah, pada akhirnya harus meregang nyawa.

Lai pula, manusia tidak pernah ditanya, "mau dilahirkan ke dunia atau tidak? Mau minta lahir dalam keluarga seperti apa? Mau cowok atau laki-laki? Atau bukan keduanya (lesbi, gay, trans,dll)?" Pertanyaan serupa bisa diperbanyak. Yang jelas, seorang manusia "dipaksa" MENJADI ADA dan harus menjalani hidup di dunia ini. TITIK.

Ada banyak kosenkuensi dari kenyataan "lahir tanpa diminta". Pertama, orang tua bertanggung jawab atas keputusan melahirkan manusia baru itu. Melalui orang tua itulah, sosok manusia baru itu menjadi ada. Dalam hal ini, orang tua berjasa dalam mengantarkan masa depan si anak.

Namun, tidak semua orang tua bertanggung-jawab. Banyak yang tidak bertanggung-jawab atau bahkan sekedar hidup tanpa kesadaran. Beruntung kalau ia orang kaya atau pejabat. Kalau gembel penjual arang yang tinggal di kolong? Sungguh malang, si anak yang lahir dari padanya.

Beruntung bagi manusia yang lahir dari keluarga berada. Teori keadilan hidup, mungkin akan ia pertegas karena ia bisa merasakan nyaman. Kecil terawat penuh kasih sayang, sekolah terjamin, masuk sekolah elit, fasilitas banyak, bisa pandai, sakit terjamin di ruang VIP. Maka tepat kalau ada anekdot, "Lahir dari keluarga kaya, cantik/ganteng, pinter, sukses, terkenal, hidup enak, mati, masuk surga". Tetapi sungguh malang jika, "sudah miskin, jelek, goblok, hidup susah, mati masuk neraka". Nyatanya, jika kaya, pasti bisa "beramal" banyak dengan kekayaan. Dengan kekayaannya, ia bisa "membeli surga". Dengan kekayaannya bisa naik haji, umroh, menyumbang yatim-piatu. Amalnya bisa ditumpuk. Namun, yang miskin, boro-boro mau amal, makan saja sudah susah. Ketika tidak beramal, mati masuk neraka.

Anekdot di atas hanyalah gugatanku. Yang baca tidak usah tersinggung. Itu hanyalah tafsir mengenai sebagian "keadilan hidup" yang berlaku di masyarakat. Kalau salah, berarti tafsirku yang salah.

Sistem kehidupan di dunia juga jelas memberikan keuntungan bagi yang kaya. Segalanya menjadi mudah kalau Anda kaya. Pertanyaanya, sejak kapan ada kaya dan miskin? Mengapa ada kaya dan miskin? Siapa yang menciptakan kaya dan miskin? Apa hakekat kaya dan miskin? Bukankah kaya dan miskin hanyalah soal hukum kepemilikan pribadi manusia yang terus dilanjutkan. Semakin banyak "kepemilikan pribadi" maka semakin ia kaya. Padalal, manusia lahir, tak memiliki apa-apa. Namun, jika ia hidup di jaman sekarang, dengan hukum kepemilikan yang berlaku di abad 21 ini, ia akan dipaksa berhadapan dengan sistem "kepemilikan" yang ada di masyarakat. Alhasil, ia tak akan bisa menghindar dari "jebakan" kaya dan miskin.

Ada lagi orang bilang, "semua orang sebenarnya tidak miskin, yang ada hanya MALAS". Orang yang berpendapat seperti itu, akan aku semprot: "Jahat amat kalian terhadap manusia yang disebut petani. Lihat saja Engkong!!" Malas bagaimana? Bangun pagi, ke sawah dengan giat. Bekerja keras sepanjang hari. Lalu apa ia kaya? Selama menjadi petani kecil di Indonesia dan hidup di abad ke-21 sekarang, niscaya hidupnya tak akan kaya. Persoalannya bukan malas atau tidak.


Ah, sudahlah…. pertanyaan dan gugatan seperti ini… biarkan dijawab sendiri-sendiri. Toh memang hidup ini, sendiri-sendiri lahir, dan sendiri-sendiri kelak mati. Hanya selama mengisi hidup itulah kita bisa melakukan suatu bersama-sama……. Itu pun kalau masih mau hidup bersama, gotong royong, kerja bakti, saling silahturohmi. Mungkin itu pula sebagian warga RT 04 pada malas datang rapat, ronda, kerja bakti, dll karena memang "perihnya" hidup ini hanya terasa "sendiri-sendiri"….. benar-tidaknya, walahualam

BERSAMBUNG.....Menggunggat Keadilan Hidup 2 ( JALANI, JANGAN CENGENG! )

Jakarta, 01 Maret 2016



Ditulis Oleh :
Taat Ujianto , RT.4 

Share This Post :

2 komentar:

Demi menjaga persatuan dan kesatuan , dilarang memberikan komentar yang mengandung unsur sara, pornografi dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan permusuhan. Jika ada yang melanggar maka komentarnya akan dihapus oleh admin. Terima kasih.

Translate I Terjemahan

Donatur

 
Copyright © 2015 Website eRTe.04 . All Rights Reserved
Template RT.04 by Creating Website and eRTe.04