Headline News
Home » , » "I See Humans But No Humanity" (SERI 1)

"I See Humans But No Humanity" (SERI 1)

Posted by Puspa Anggita
Website eRTe.04 , Updated at: 09:21:00

Posted by Puspa Anggita on Thursday, 4 February 2016

rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

eRTe 4 - Ada tulisan "I see humans but no humanity" di dinding salah satu warga RT 04. Aku tercenung. Ini judul apa? Tema karangan? Tema tulisan? Mau mengajarkan humanisme? Berat sekali, loh bila diselami. Maha luas dan dalam, bak samudra raya tak berujung dan berlandaskan…. (Hehehe… sok mendramatisir). Mari kita kupas satu-satu…. Yang mau kupas juga dipersilakan. Aku akan bicara dari sisi pemahamanku, alias subjektif.



Bicara soal "kemanusiaan" itu tidak sederhana. Kata dasarnya: MANUSIA. Makhluk yang satu ini serba banyak tingkah. Sejak ia menjadi ada dan menghuni bumi, jejak kelakuannya tak habis-habisnya dibicarakan. Cerita kehidupan manusia masa lampau yang kemudian ditulis, dinamakan sejarah. Jadi, yang diceritakan dalam sejarah, selalu manusia. Mulai dari soal kerakusannya, kebengisannya, penindasannya, ketidakadilan, keserakahan, dan sebagainya. Namun, karya sejarah yang diperhitungkan dan dianggap berguna bagi umat manusia, biasanya selalu MENGGUGAT KEMANUSIAAN. Gugatannya biasanya ditulis, difilemkan, difoto dll. Intinya berupa "rekaman" kejadian masa lampau yang berisi perjuangan manusia. Mari kita ambil salah satu contoh.

Pernah baca atau dengar Multatuli? Nama aslinya Eduard Douwes Dekker. Ia dikenang dan terkenal karena menulis buku Max Havelaar pada tahun 1860. Ia orang Belanda. Tapi, pemikirannya justru membela orang-orang kecil di daerah Lebak, Banten (Bumiputra). Di mata orang Belanda, ia mungkin dipandang sebagai pengkhianat. Di mata orang Indonesia, ia adalah pahlawan. Dan di mata dunia, ia dikenal sebagai pejuang kemanusiaan.

Ia adalah manusia yang melampaui zamannya. Saat ia menjadi Asisten Residen di Lebak, "kemanusiaan" seorang Multatuli berhasil menggoncangkan mentalitas orang Eropa. Ia menolak suatu "kewajaran" yang berlaku pada abad 19 di Nusantara. Kala itu adalah wajar bila orang kecil (kawula) harus menjalani kerja wajib (diadopsi pemerintah Belanda menjadi kerja rodi) menggarap lahan bupati (dianggap sebagai keturunan raja) tanpa dibayar. Adalah lazim bila kawula harus menanggung biaya pesta para bupati. Adalah biasa bila pejabat menarik upeti dan pajak baik dengan cara halus maupun merampas. Yang tidak lazim justru mempersoalkan atau menggugat praktek-praktek semacam itu. Seolah-olah, sudah takdirnya orang kecil dan lemah itu menjadi alas kaki dan keset para pejabat. Nah, Multatuli menggugat kesewenang-wenangan yang dlakukan Adipati Lebak (orang Bumiputra, loh).

Alkisah bernama Saijah dan Adinda. Kehidupan sepasang kekasih yang hidup romantis bersama kerbau-kerbanya. Kesahduan hidup mereka terkoyak karena praktek penindasan di Lebak. Berkali-kali kerbaunya dirampas aparatur Lebak (Demang) untuk memenuhi kemewahan hidup bupati. Orang tuanya sempat protes namun kematian balasanya. Karena putus asa, Saijah-Adinda bergabung dalam pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Alhasil, mati membawa ketragisannya.

Kematian seperti Saijah-Adinda tak terhitung yang tidak tercatat. Karna Multatulilah, kisah Saijah-Adinda dikenal. Tulisannya membuka mata orang Eropa bahwa di tanah Jawa terjadi penghisapan dan penindasan. Karena praktek penindasan itulah, Belanda menjadi makmur. Kelak gugatanya melahirkan pemikiran bahwa Belanda "hutang budi" pada rakyat Jawa dan sepantasnya memberi "balas budi".

Nasib Multatuli sendiri tak kalah tragis. Karena gugatannya, ia dipandang oleh Gubernur Jendral telah mengusik tata ketertiban (rust en orde). Ia dipecat dari jabatannya lalu pulang ke Eropa. Keluarganya hidup susah. Ia meninggal dalam kemiskinan.



Penggalan contoh soal gugatan kemanusiaan di atas bisa menjadi cermin. Kemanusian macam apa yang patut digugat? Bila kita berpendapat soal manusia tanpa kemanusiaan, kemanusiaan macam apa itu? Kalau memang kemanusiaan terkoyak, memang patut dipersoalkan. Mari kita selami dalam-dalam. Mumpung tak ada nilai dan nggak ada yang menulai, ada baiknya kita bersama-sama memperdalam ilmu kemanusiaan…..



Ditulis Oleh :
Taat Ujianto , RT 04

Share This Post :

0 komentar:

Post a Comment

Demi menjaga persatuan dan kesatuan , dilarang memberikan komentar yang mengandung unsur sara, pornografi dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan permusuhan. Jika ada yang melanggar maka komentarnya akan dihapus oleh admin. Terima kasih.

Translate I Terjemahan

Donatur

 
Copyright © 2015 Website eRTe.04 . All Rights Reserved
Template RT.04 by Creating Website and eRTe.04