Headline News
Home » , » I See Humans but No Humanity (Seri 2)

I See Humans but No Humanity (Seri 2)

Posted by Puspa Anggita
Website eRTe.04 , Updated at: 10:37:00

Posted by Puspa Anggita on Wednesday, 10 February 2016

eRTe 4 ,rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede
 Saijah dan Adinda bersama kerbau mereka

eRTe 4 - Melanjutkan seri 1, berikut saya berikan tekanan gagasan yang ingin saya sampaikan.


Alkisah, Saijah dan Adinda. Kerbau-kerbau mereka dirampas oleh pejabat bawahan Bupati Parangkujang. Saijah-Adinda beserta keluarga besarnya hidup menderita.

Kerbau sangatlah penting bagi masyarakat Lebak. Kerbau merupakan alat produksi petani di masa itu. Sawah-sawah mereka akan terolah dengan cepat bila ada kerbau. Kotorannya yang bau juga dipakai untuk menyuburkan tanah.

Tak hanya itu, kerbau milik Saijah juga istimewa. Kerbaunya telah berhasil menyelamatkan nyawanya dari terkaman harimau. Dengan menghadangkan tanduknya, perut harimau dibuat robek dan mati. Leher kerbau Saijah sempat terluka. Dengan kasih sayang, Saijah merawat luka itu hingga sembuh. Kerbaunya bagaikan sahabat dekatnya.

Namun prahara datang. Demang Parangkujang merampas kerbau itu sebagai upeti adipati Lebak. Petani wajib setor upeti. Kakak Saijah sempat melawan perampasan itu. Namun, sebutir peluru panas menembus kepalanya. Kakak Saijah mati bersimbah darah. Sementara, kerbaunya digiring paksa menuju tempat penjagalan dimana pesta telah menanti. Saijah tak berdaya. Hanya linangan air mata saja mengucur tanpa permisi.

Sawah harus diolah dengan kerbau. Setelah perampasan, ayah Saijah menjual keris pusaka. Dengan uang hasil penjualan, ia belikan kerbau baru. Karena uangnya terbatas, ia mendapat kerbau kurus. Namun, karena kasih sayang Saijah, kerbau itu menjadi gemuk dan sehat. Hari-hari Saijah kembali penuh semangat. Dengan ditemani Adinda, ia bernyanyi diiringi alunan seruling dari mulut Saijah. Di bawah pohon ketapang, mereka berdua bernyanyi bersama sambil memimpikan kelak menjadi keluarga sederhana dan hidup damai. Itulah pacaran tempo dulu.

Namun, prahara kembali datang. Demang Parangkujang datang kembali ke desa. Ia rampas kembali kerbau-kerbau di desanya untuk mempersiapkan pesta adipati. Tak terkecuali kerbau milik Saijah. Hati perih dan tak berdaya kembali dialami keluarga Saijah. Untuk kali ini, ayah Saijah berusaha memprotes. Ia datang ke rumah Demang. Ia meminta bayaran untuk kerbaunya. Maklum ia sudah tidak mempunyai harta apa pun. Namun, hantaman gagang cangkul yang ia dapatkan. Ia mati dengan keputusasaan.

Saijah meronta. Adinda datang. Belum sempat Saijah menguburkan jenasah ayahnya, hidupnya terancam. Anak buah Demang akan menangkapnya. Saijah memutuskan lari dan terus lari. Ia tercerai berai dengan kampung dan kekasihnya Adinda.

Dengan perahu ia menyeberang menuju tanah Lampung. Ia ingin bergabung dengan para petani yang menolak kesewenang-wenangan penguasa kala itu. Tatkala sampai di sana, ia terkejut, para petani di Lampung telah bergelimpangan menjadi mayat. Ia tebarkan pandanganya dan terkejut dengan salah satu sosok mayat. Di dekatinya. Ia terbeliak. Salah satu mayat itu adalah Adinda. Rupanya Adinda ikut menyusulnya dan telah sampai lebih dulu di Lampung. Di tangannya tergenggam seruling yang selama ini menemani mereka bernyanyi di bawah pohon ketapang. Air matanya tak mampu menyembuhkan hatinya yang remuk redam. Tak ada lagi ruang hidup bagi Saijah. Ia berlari menghadang senapan tentara. Badanya menancap pada bayonet. Ia roboh. Saijah mati membawa keputusasaannya. Sungguh, nasibnya hanyalah duka nestapa. Makhluk kecil tak berdaya… dari ketiadaan, ia pun kembali dalam ketiadaan.


Mari kita komparasi antara cerita di atas dengan kejadian di RT 04.


Bisa dibilang, tindak sewenang-wenang di atas, mempunyai pola. Salah satunya: Kerbau yang merupakan alat produksi dirampas penguasa. Dalam konteks ini, apakah pola ini terjadi di RT 04? Bila terjadi, maka patut digugat. Adakah pemerasan di RT 04? Adakah kesewenang-wenangan? Adakah penganiayaan? Bila tidak ada, maka perlu kita pertanyakan, kemanusiaan macam apa yang dipersoalkan di RT 04.


Semoga kita semua bisa menjadi lebih bijaksana. Amin


Jakarta, 9 Februari 2016

Ditulis Oleh :
Taat Ujianto , RT 04

Share This Post :

0 komentar:

Post a Comment

Demi menjaga persatuan dan kesatuan , dilarang memberikan komentar yang mengandung unsur sara, pornografi dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan permusuhan. Jika ada yang melanggar maka komentarnya akan dihapus oleh admin. Terima kasih.

Translate I Terjemahan

Donatur

 
Copyright © 2015 Website eRTe.04 . All Rights Reserved
Template RT.04 by Creating Website and eRTe.04