Headline News
Home » » JALANI, JANGAN CENGENG!

JALANI, JANGAN CENGENG!

Posted by Puspa Anggita
Website eRTe.04 , Updated at: 07:35:00

Posted by Puspa Anggita on Monday, 7 March 2016


rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

RT.4 - Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya tentang Curhat 1: Menggugat Keadilan Hidup.


Kala itu, usiaku menginjak 26 tahun. Seperti pada tulisan sebelumnya, aku merasakan kenyataan hidup tidak seindah cerita dongeng. Kukunyah kembali, akhirnya kusimpulkan juga, hidup yang nyata ini keras dan memang sering dijumpai ketidakadilan. Tapi tak ada alasan hanya kita ratapi. Kita jalani dengan keberanian, "Jangan cengeng!" Begitulah kira-kira.

Bila kutengok kembali, pengalaman pada fase "menggugat" kehidupan, adalah titik nol. Ada pemberontakan membabi buta. Orang tua "diprotes" karena tidak memberikan terbaik dalam mendidik dan membiayai pendidikanku. Kenyataan hidup "kutelanjangi". Namun…., puncaknya, ada suasana sumeleh. Ada suasana lahir kembali. Kelahiran baru ini berbeda dengan kelahiran pertama. Kali ini, ada suasana "siap bertempur" menghadapi kenyataan hidup.

Bagaimana itu terjadi? Salah satunya, aku menceburkan diri dalam Filsafat Absurbditas. Kebetulan aku membaca buku Albert Camus, tentang bunuh diri filosofis dan cerita tentang kehidupan le Mythe de Sysiphe. Dikisahkanlah tokoh bernama Sisifus. Sepanjang hidupnya ia menjalani rutinitas memikul batu menuju puncak gunung. Batu itu ia panggul. Namun karena kemiringan, sebelum sampai puncak, ia terpelanting dan mengglinding bersama batunya ke bawah gunung. Sisifus tidak berhenti, ia bangkit lagi dan mengulang-ulang pekerjaan tersebut. Tidak pernah sampai puncak, tetapi diulang kembali.

Pekerjaan Sisifus sia-sia. Kesia-siaan adalah ciri absurditas. Setelah makna hidup dikupas, ditelanjangi, ternyata hanyalah kekosongan (penderitaan) belaka. Kekosongan yang terus ingin diisi tetapi berjumpa kembali dengan kekosongan baru lagi. Kenikmatan, kesuksesan, kekayaan, cita, setelah dicapai, ternyata melahirkan kekosongan baru lagi. Tak ada habisnya. Membosankan.

Sebagai pemberontakan atas "kesia-siaan" tersebut, munculah salah satu pilihan sikap yaitu "membunuh hidup". Dengan kematian itu, mungkin akan diperoleh kebebasan. Terbebas dari kesia-siaan. Di sinilah letak bunuh diri filosafis sebagai salah satu pilihan sikap. Bila akhir hidup manusia sudah pasti bisa diketahui (mati), untuk apa lagi "tipuan hidup" ini dijalani. Kira-kira begitulah singkatnya isi buku Albert Camus.

Lalu apa keputusanku?
Aku memilih melanjtkan hidup. Hidup ini masih layak dijalani dan diisi dengan perjuangan tiada henti. Generasi kita adalah nyata ada. Hasil perjuangan haruslah berguna untuk mereka. Namun, semua harus dijalani tahan banting seperti Sisifus. Suatu ketika, aku membayangkan Sisifus tersenyum saat jatuh terpelanting. Ia menertawai dirinya sendiri. Pada saat itulah, ada keindahan di sana. Terbiasa menertawai kepedihan.  Biarpun sia-sia, ia bilang "Saya bahagia dangan ADAKU ini.   Omong kosong  hidup ini tak berdampak apa pun buatku. Akan diprotes dan dilawan dengan apa pun., INILAH KENYATAAN hidup!!! Jalani! JANGAN CENGENG! Tahan Banting!"



Akhirnya, ingin kututup tulisan ini dengan puisi dari blog sebelah:

Aku, Bunuh Diri

Apa yang menarik dari hidup ini. Tidak ada, semua tampak datar dan membosankan. Semua sama dengan segala permasalahan. Jika kau sudah tahu jawabannya, kau akan segera mengerti bahwa hidup ini adalah kosong. Tidak ada sama sekali.

Lalu aku harus memilih mengisi tentang kebebasan yang tidak ada. Seperti kata orang besar yang menampar dunia. Manusia terpenjara oleh kebebasannya sendiri. Dan bunuh diri adalah jawaban yang terbaik untuk hidup. Ketiadaan hidup.

Jauhilah filsafat, jauhilah kenyataan yang akan menyeretmu kedalam keheningan hidup. Dunia ini tidak ada sama sekali. Maka benar, kehidupan yang abadi adalah kematian itu sendiri.
Bukankah kita akan menjadi gamang dengan kenyataan yang aku sebutkan. Lalu apa makna yang harus kita berikan. Menciptakan makna atau menenukan makna dalam ketiadaan. Aku rasa, manusia haruslah menciptakan makna disetiap hidupnya, menciptakan nilai yang harus dipegangnya sendiri.

Bunuh diri secara filsofis ?

Begitulah akhir dua seri tulisan kali ini.  SELAMAT BERJUANG!!



Jakarta, 3 Maret 2016





Ditulis Oleh :
Taat Ujianto , RT 04

Share This Post :

0 komentar:

Post a Comment

Demi menjaga persatuan dan kesatuan , dilarang memberikan komentar yang mengandung unsur sara, pornografi dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan permusuhan. Jika ada yang melanggar maka komentarnya akan dihapus oleh admin. Terima kasih.

Translate I Terjemahan

Donatur

 
Copyright © 2015 Website eRTe.04 . All Rights Reserved
Template RT.04 by Creating Website and eRTe.04