Headline News
Home » , » PALU GODAM MENGHANTAM WARGA "ASLI" CILEBUT

PALU GODAM MENGHANTAM WARGA "ASLI" CILEBUT

Posted by Puspa Anggita
Website eRTe.04 , Updated at: 09:52:00

Posted by Puspa Anggita on Thursday, 10 March 2016


rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede



eRTe 4 -Bukan berniat suudzon. Nasib dan perilaku seseorang dalam tulisan ini diambil untuk mengungkap persoalan sosial. Alhasil, akan ada beberapa orang "dikutip" biarpun tidak menyebut nama sesungguhnya.

Saat aku mulai menginjakkan kaki di Cilebut, fenomena baru, aku saksikan. Aku pun belajar memahaminya.

Pertama, mengenai "warga asli" di sekitar VMB2. (Istilah asli disini bukan bermaksud SARA namun hanya untuk memberikan makna/membedakan antara kelompok warga yang tinggal lebih awal mendiami dengan kelompok baru/pendatang. Penulis sendiri tidak setuju dengan istilah penduduk Indonesia asli dan tidak asli).


Pola interaksi warga "asli" di sekitar VMB2 dengan pendatang di VMB2 kira-kira demikian. Terhadap pendatang, mereka sangat ramah dan bersedia bergaul dengan warga baru. Tak jarang mereka memberikan hasil panennya (kacang, singkong, beras, dll) dengan mudah dan banyak. Mereka ingin akrab dengan pendatang baru di VMB2. Rata-rata mereka demikian. Sementara si pendatang di VMB2 dengan "budaya" kotanya memberikan simbol kota seperti indomie, biskuit, pakaian, dll. Barter pun tak jarang terjadi. Perlahan silahturohmi terjadi.

Dalam interaksi ini mulailah sekat-sekat keterasingan melebur dan tercipta suasana kekeluargaan. Kadang muncul semacam kontrak kerja, membangun rumah, kerok hingga pijit-memijit pun terjadi. Interaksi bermotif ekonomi saling menguntungkan mulai tercipta. Dari sekedar menjadi tukang aduk semen hingga pinjam-meminjam uang. Tentu hal seperti ini wajar sebagai bukti makhluk sosial.

rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede
rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

RT.4 - Dari sekian banyak persoalan, saya tertarik dengan persoalan pola pikir mereka dalam menyikapi "perubahan zaman". Ada kesan, mereka mengikuti arus namun tak mampu melawan arus zaman. Maksudnya begini: mereka tahu akan adanya gerak pembangunan kota yang meluas hingga ke wilayah pinggiran (Cilebut). Mereka tahu bahwa wilayah mereka akan disulap menjadi perluasan kota berupa perumahan, ruko, dll. Akan ada "palu godam" menghantam keras dalam kehidupan mereka. Dan dalam menghadapi hantaman budaya baru, mereka harus menyiapkan diri. Antisipasi, nampaknya tidak terjadi.

Benturan budaya baru dengan budaya mereka yang agraris (mengandalkan pertanian) bersifat alamiah tanpa rencana dan persiapan. Sebagian diuntungkan, misalnya seorang warga "asli" yang punya lahan luas, mempunyai usaha matrial, dan berhasil mengembangkan usahanya. Orang seperti ini, akan makin diuntungkan dalam kondisi benturan budaya. Sebagian kecil lainnya dapat kreatif dan berhasil berselancar dalam usaha baru seperti bengkel, sewa kontrakan, buka kioas, dll). Namun, yang lainnya, hanya menjadi "penonton", bahkan jadi korban.

Mereka yang menjadi penonton dan korban benturan budaya (misalnya nasib Dono dalam tulisan sebelumnya) adalah warga yang tak mampu "diselamatkan" oleh institusi pendidikan. Institusi pendidikan di Cilebut seharusnya ikut bertanggung-jawab memikul situasi ini. Nyantanya, saat aku datang di Cilebut, masih aku jumpai fenomena kawin muda, pendidikan hanya tamat SD/SMP dan tidak melanjutkan lagi, memilih jual tanah untuk bangun rumah, naik haji, atau jual tanah untuk beli motor dan menjadi tukang ojek, dari pada untuk modal pendidikan putra/putrinya. Bila memang pendidikan tak mampu menjadi pilar pertahanan menghadapi benturan budaya, dengan apa pula mereka mampu menghadapi benturan budaya?

rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

rt.04, vila mutiara bogor 2, bojonggede

Pendidikan harusnya mencerahkan generasi muda di Cilebut. Nyatanya, anak muda lebih suka main motor, main game di warnet, dan tak mau mengenal kembali dunia tanam-menanam sebagai sumber pengasilan orang tua mereka (ibu yang memberi makan mereka). Saksikan saja, di sawah/lahan garapan sekitar VMB2, jarang sekali anak muda usia smp/sma masih mau mencangkul. Rata-rata adalah generasi menengah dan tua. Generasi muda tingkat SLTA cenderung mengandalkan jurusan otomotif agar bisa langsung kerja. Generasi ini akan makin mempertegas pemutusan rantai budaya agraris masyarakat Cilebut.

Namun, generasi dengan bekal keterampilan selevel SMK seperte mereka, niscaya hanya akan terserap pada level remah-remah pembangunan. Lagi-lagi, kekuatan perekonomian di sekitar VMB2 tetap akan dikooptasi oleh korporasi besar seperti ALFA, INDOMART, atau denasti warga asli yang kaya yang mampu membangun istana megah di wilayah Cilebut.....

Yap... sekolah-sekolah di sekitar Cilebut harus ikut bertanggung-jawab. Atau jangan-jangan para guru di sekolah sekitar Cilebut tidak tahu persoalan yang ada di depan mata. Hanya sekedar menjalankan kurikulum? Penyadaran bagi generasi muda dan masyarakat ada di pundak mereka!!!

Kunfayakun....

Ttulisan ini masih penggalan pendek... lain kali disambung lagi.....



Jakarta, 10 Maret 2016




Ditulis Oleh :
Taat Ujianto , RT 04

Share This Post :

0 komentar:

Post a Comment

Demi menjaga persatuan dan kesatuan , dilarang memberikan komentar yang mengandung unsur sara, pornografi dan hal-hal lain yang bisa menyebabkan permusuhan. Jika ada yang melanggar maka komentarnya akan dihapus oleh admin. Terima kasih.

Translate I Terjemahan

Donatur

 
Copyright © 2015 Website eRTe.04 . All Rights Reserved
Template RT.04 by Creating Website and eRTe.04